TITIK TEMU KONSEPSI KESELAMATAN
DALAM ISLAM-KATOLIK
(suatu kajian epietemologis)
Dr. Abdullah, S.Ag. M.Ag*
Term keselamatan dalam Islam (salam) dan Katolik (salom)
memberikan pengertian yang sama yakni selamat, sejahtera, selamat dari bahaya, berdamai atau mengajak damai, keadaan tidak cacat, bebas dari bahaya, sehat tidak
kurang dari apa-apa’.
Fokus permasalahan adalah bagaimana epistemologi keselamatan dalam Islam dan
Katolik.
Secara epistemologis, Tuhan menjelaskan konsep
keselamatan dalam Alquran dan Alkitab. Mengenai konsep ketuhanan dalam Islam
dan Katolik sama-sama percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa (monotheisme).
Keduanya percaya bahwa Muhammad saw. dan Isa (Yesus) sebagai pembawa wahyu
Tuhan (Qs.Ash Shaf 61:6 dan Bdk Yoh 14:
26).
Esoterisme konsepsi keselamatan dalam Islam dan Katolik
sebagai berikut: (1). Tuhan memiliki otoritas menyelamatkan hamba-Nya baik
melalui perkataan maupun perbuatan-Nya, (2). Alkitab dan Alquran sama-sama
wahyu Tuhan yang masing-masing diturunkan kepada Yesus dan Muhammad saw. (3).
Eksistensi Yesus dan Muhammad sama-sama sebagai nabi Allah.
Kata
Kunci: Titik temu (esosterisme)-Keselamatan-Islam dan Katolik
A. Pendahuluan
Agama
Nasrani dan Islam secara
epistemologis memiliki akar kenabian yang sama, yakni bersumber pada
Nabi Ibrahim.[1] Oleh
karenanya, kedua agama ini disebut sebagai agama Ibrahim (Abrahmic
Religion).[2]
Meskipun secara konseptual keduanya memiliki beberapa perbedaan, namun secara
teologis kedua agama ini memiliki ciri khas yang sama yakni agama monotheis dan
inti ajaran yang dikembangkannya adalah mengajarkan kebaikan untuk meraih
keselamatan.
Secara konseptual, perspektif keselamatan dalam agama Katolik telah
dipahami secara eksklusif oleh sebagian kalangan sekitar awal abad ke-4 M.
Tokoh utama menjadi pionir dalam pemahaman yang eksklusif tersebut adalah Tertulianus. Ia seorang tokoh Kristen
(160-220 M.), telah menafsirkan secara eksklusif terhadap surat Paulus yang
pertama kepada Timotius pasal 2 ayat 4-5.[3] Ia
menganggap bahwa tidak ada keselamatan di luar gereja (extra ecclesiam nulla
salus), sebab gereja pada
hakekatnya didirikan Kristus. Problema ini melatarbelakangi sekaligus menjadi
dalih yang kuat bagi sebagian penganut Katolik sehingga mereka mengklaim diri
bahwa, agama yang selamat di sisi Tuhan adalah Katolik, sedangkan agama lain
dianggap sesat.[4]
Pandangan Tertulianus di atas,
sangat berbeda dengan hasil Konsili Vatikan II yang tertulis dalam dokumen N.A.
(Nostra Aetate) tentang hubungan gereja dengan agama-agama bukan
Kristen. Dokumen tersebut menyatakan, bahwa semua orang memiliki hak untuk
memperoleh keselamatan. Oleh karena itu, Allah mempunyai cara untuk
menyelamatkan masing-masing
dan secara kelembagaan, setiap agama masing-masing membawa keselamatan.[5]
Kasus yang sama dalam tubuh Islam, berkembangnya dua pemahaman yang berbeda
yakni pandangan terhadap term Islam secara eksklusif dan inklusif. Kelompok
eksklusifis memahami bahwa agama yang diterima di sisi Tuhan adalah
Islam, sebagaimana Firman
Allah dalam Al-Qur’an
”Sesungguhnya
agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam...(QS.3:19).”
Selain itu, terdapat pula sebagian umat Islam yang memahami term Islam yang disebut dalam
dua ayat tersebut secara inklusif. Pandangan Inklusif kelompok ini (Islam
Liberal dan kaum pluralis) memahami term Islam lebih filosofis. Makna Islam
yang dimaksud adalah “tunduk” atau “menyerah”. Pandangan ini erat kaitannya
dengan penjelasan Ibnu Taymiyah yang mengatakan “al-Islam” mengandung dua
makna. Pertama, sikap tunduk dan
patuh, jadi tidak sombong. Kedua, ketulusan dalam sikap tunduk kepada
satu pemilik atau penguasa[6]. Jadi
orang yang berislam adalah orang yang taat kepada Tuhan, tidak musyrik, ia taat
kepada hukum Tuhan. Hatinya selalu diliputi kedamaian, ketenangan dan
memancarkan akhlaq yang menyenangkan orang lain, dan menjadi rahmat bagi alam
semesta.
Perspektif yang menyatakan bahwa setiap agama membawa keselamatan
masing-masing, dalam hal ini hubungan antara Islam-Katolik, sangat tepat untuk
menjadi sentral pengkajian yang lebih mendalam. Kajian tentang keselamatan akan
memberikan sejumlah manfaat dalam rangka perjumpaan kembali antara Islam dan
Katolik untuk sekarang ini. Mencari titik persamaan tentang keselamatan dalam
Islam-Katolik akan mencairkan kembali benih-benih pertentangan antara kedua
penganut agama tersebut, yang selama ini selalu saling mencurigai satu dengan
yang lain. Dari uraian di atas setidaknya menimbulkan beberapa permasalahan
yakni; Bagaimana konsep keselamatan dalam Islam- Katolik dan bagaimana titik
sentuh epistemologinya.
B. Pengertian
Secara etimologi term keselamatan berasal dari
bahasa Arab yang terdiri dari huruf س ل م menjadi سلم
artinya selamat, sejahtera, selamat dari bahaya.[7]
Sedangkan kata سالمه
artinya
berdamai atau mengajak damai.[8] Kata
ini juga menjadiاسلامة artinya selamat, keadaan
tidak cacat.[9] Term keselamatan dalam Al-Qur’an sangat bervariasi, baik bentuk maupun
maknanya.
Term salam populer dengan istilah salom (Bahasa
Ibrani). Dalam Alkitab Perjanjian Lama, kata salom
digunakan untuk keadaan ‘sejahtera, bebas dari bahaya, sehat tidak kurang dari
apa-apa’.[10] Konsep
keselamatan perspektif Alkitab adalah dari term dasar ‘selamat’ yang
juga diambil dari bahasa Arab yaitu “salam” artinya keadaan baik,
keutuhan. Dalam Alkitab, Allah disebut Al-Salam yang artinya ‘Yang bebas
dari kekurangan apa pun; dar al-salam[11] adalah
–firdaus. Akar katanya pun berasal dari kata سلم artinya suasana dalam keadaan baik,
tidak terluka, damai, kesehatan, pernyataan hormat.[12] Kata سلم itu secara historis sejak dahulu telah digunakan para nabi
Muhammad yang ketika itu digunakan untuk menyalami orang.
Perspektif Perjanjian Lama, keselamatan tidak terbatas
pada apa yang berharga di dunia ini, melainkan mengandung juga-harapan, bahwa
Yahwe selalu menjadi pelindung terhadap segala ancaman seperti diungkapkan
dalam beberapa Mazmur. Yahwe menjanjikan keselamatan bagi bangsa yang
dipilih-Nya; maka hidup yang panjang dan makmur, keturunan dan kemenangan atas
musuh dipandang sebagai berkat Yahwe. Ketidak-setiaan kepada-Nya atau –dosa
mengancam keadaan selamat ini. Maka para nabi menyerukan agar umat Israil
bertobat dan kembali kepada Yahwe, supaya dapat mengharapkan kerajaan yang
ditandai perdamaian (salom), keadilan dan –kehidupan yang tidak terancam
kematian (Bdk Yes 66). Harapan eksatologis ini berhubungan dengan pengantara
keselamatan yaitu ‘hamba Yahwe’ (Yes 42-53)[13] Yesus sebagai manusia, ‘putra Tuhan’ memiliki
otoritas penuh untuk mewartakan kehendak Allah untuk meyelamatkan semua orang.[14]
Keselamatan dalam Islam-Katolik yang patut dikedepankan
sekarang ini adalah keselamatan horisontal, yakni mengaktifkan kembali hubungan
tali persahabatan antara penganut Islam-Katolik dalam rangka membangun
harmonisasi sosial keagamaan.
C. Titik Sentuh Epistemologis
1. Kitab suci Al-Qur’an dan Alkitab
Alkitab
(Injil) dan Al-Qur’an merupakan wahyu (revelation)
yang diyakini sebagai penunjukkan atau pernyataan diri Tuhan. Dalam
Katolik meyakini bahwa Alkitab adalah sejumlah kumpulan firman Tuhan dengan
kalimah-Nya melalui Yesus Kristus. Sedangkan Al-Qur’an adalah kumpulan firman
Allah yang diturunkan kepada Muhammad Saw. melalui malaikat Jibril dan cara
Tuhan menyampaikan firman itu sama seperti kepada semua nabi yang menerima
wahyu.
Dalam Islam, banyak sekali penafsiran dan kajian
mutakallimin tentang definisi wahyu. Salah satu aliran kalam
dalam Islam, yakni Asy’ariyah, memandang bahwa wahyu adalah keinginan mutlak
dari Tuhan, Rahmat Tuhan, Hidayah Tuhan, dan Kreativitas Tuhan. Adanya wahyu
merupakan bagian dari Kehendak Tuhan dalam segala sifat-Nya. Dengan demikian
Al-Qur’an sebagai wahyu, kata Asy’ariyah
bukan diciptakan, tetapi qadim, karena Tuhan semenjak azali bersabda.[15] Oleh
karena itu, Tuhan dalam sabda-Nya tidak dipengaruhi oleh siapa dan apa pun,
tetapi atas kehendak mutlak-Nya, yang semata-mata untuk kepentingan manusia
sendiri demi kebaikan di dunia dan di akhirat kelak.
Wahyu sinonim dengan tanzil yang berarti penurunannya dari langit ke bumi.[16] Dalam
Islam dan Katolik meyakini bahwa wahyu adalah kata Tuhan (the word of God)
atau kalam, dalam term Arab dan ini akan lebih benar apabila diterjemahkan
dengan kalimah yang secara
kebetulan digunakan Isa dalam Al-Qur’an Ali Imran
(3:45);
“(Ingatlah),
ketika malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan
kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat[17] (yang
datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di
dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah,
(QS.3:45)
Esoterisme
pemahaman atas kalimah dalam Islam meyakininya sebagai ”kehendak” Tuhan,
sedangkan dalam Katolik bahwa kalimah adalah ”perintah” Tuhan. Tindakan
Tuhan jadinya adalah tindakan-tindakan yang diperintahkan Tuhan dan
disetujuinya; tindakan-tindakan tersebut bisa juga dikatakan sejalan dengan
izin (good pleasure’)-Nya.
Perbedaan
antara muslim dengan kristiani hanyalah pada segi tekanan bahasa. Namun bagi
kaum muslim lebih menempatkan pada control mutlak Tuhan terhadap semua peristiwa,
sehingga tak ada satu kejahatan pun pada seseorang tanpa sesuai dengan kehendak
Tuhan. Sedangkan pada kalangan Katolik, kejahatan-kejahatan yang terjadi pada
orang-orang yang baik itu, sesuai dengan ”kesucian” Tuhan (the holiness
of the Lord), karena siapa pun yang dicintainya dia mensucikannya.[18]
Secara normatif, Al-Qur’n menyatakan
pengakuan atas eksistensi semua agama merupakan sikap ketulusan menerima
keragamaan. Sikap mengakui kebenaran eksistensi agama dan kepercayaan orang
lain bersifaf sunatullah. Oleh karena itu, pengakuan Islam atas Nasrani
dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an surat
al-Baqarah (2):62):
”Sesungguhnya
orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabiin[19], siapa
saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Kemudian dan
beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada
kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Maksud ayat di atas, Islam dan Nasrani memiliki titik
esoteris dalam hal keselamatan di sisi Tuhan. Keselamatan Allah tidak terbatas
pada golongan tertentu, tetapi semua golongan antara lain umat Yahudi, Nasrani,
Shabiin. Semua golongan ini jika mereka beriman dan beramal saleh, maka tidak
ada keraguan dan kekhawatirkan kepada mereka. Kata ragu dan khwatir merupakan
kata kunci bahwa mereka akan mendapatkan keselamatan Allah.
Wujud pengakuan atas eksistensi agama lain dalam bentuk
jenis dan cara persembahannya diatur dalam Al-Qur’±n surat al-’An’±m (6):108.
”Dan janganlah
kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka
nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan....(QS.6:108)
Dilihat dari dimensi kesatuan kenabian Islam dan Nasrani,
terdapat persamaan ontologis dan epistemologis, namun perspektif aksiologisnya
telah terjadi penyimpangan oleh sebagian pengikutnya. Kesatuan propertis dalam
Islam dan Nasrani dijelaskan dalam Al-Qur’an
surat al-Syura (42):13.
Dia telah
mensyari'atkan bagi kamu tentang agama[20] apa
yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu
dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu:
Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.... (QS. 42:13)
Memaksa agama
dan kehendak adalah bagian dari pengingkaran atas keragaman hidup. Orang-orang
yang mengingkari atas eksistensi agama lain bertentangan dengan firman Allah
dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah
(2):256.
”Tidak ada
paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang sesat...[21]
Pemaksaan
kehendak atau agama kepada orang lain merupakan sikap yang tidak terpuji di
mata manusia maupun di sisi Tuhan, sebab sikap tersebut bertentangan dengan
naluri manusia baik secara religius maupun psikologis. Secara ontologis antara
agama satu dan yang lain memiliki sistim doktrin yang sama yakni doktrin untuk
percaya kepada ke-Esaan Tuhan dan kesatuan pesan ketuhanan. Konsep kesatuan
pesan dalam Islam dijelaskan dalam Al-Qur’an
surat Annisa (4):131.
Dari sisi esoterisme pemahaman atas kitab suci dalam Islam
dan dalam katolik, memberikan keterangan dan gambaran bahwa kedua agama ini
telah menjelaskan adanya persamaan epistemologis dan saling kesepahaman atau
pengakuan eksistensi antara Alkitab dan Al-Qur’an. Meskipun teks Al-Qur’an berbeda dengan teks-teks kitab suci
sebelumnya, namun ia merupakan kelanjutan darinya. Oleh karena itu, nilai yang
terkandung Al-Qur’an terdapat banyak
kesamaan dengan kitab sebelumnya. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an dan kitab
suci sebelumnya-yang menjadi pegangan umat Yahudi dan Nasrani-berasal dari
sumber yang sama, yakni Ibrahim. Inti ajarannya juga sama yaitu tauhid
(ke-Esaan Tuhan).
Al-Qur’an dengan
tegas menyatakan diri sebagai kelanjutan dari kiitab-kitab sebelumnya dan
menjadi pembenar terhadap ajaran-ajaran, serta menyatakan bahwa orang-orang
yang tidak mengimani ayat-ayat Tuhan akan mendapat siksa.
”Dia menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan Sebenarnya;
membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan
Injil. Sebelum (Al-Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan dia menurunkan
Al Furqan....[22] (QS.Ali
Imran (3):3-4).
Sebagaimana telah terungkap terdahulu, bahwa isi kandungan
Alkitab (kitab suci umat Kristiani) adalah terdiri dari ajaran Taurat dan
ajaran Yesus (Isa). Sebagaimana diungkapkan dalam firman Allah:
”(Ingatlah) ketika Allah berfirman: hai Isa putra Maryam,
Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu aku mengukuhkanmu Ruh
al-Qudus....,”(QS .Al Maidah:110).
Al-Qur’an bahkan
mengajak kaum Nasrani dan Yahudi untuk tidak klaim terhadap Ibrahim, karena
semua ajaran yang diajarkan oleh para nabi dan rasul tentang agama adalah
kelanjutan adari ajaran pendahulunya yakni Ibrhim.
”Hai ahl Alkitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal
Ibrahim, padahal taurat dan injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim.
Apakah kamu tidak berakal?” (QS.Ali Imran (3):65).
Sebagaimana terungkap dalam asbab al-nuzul ayat ini,
bahwa Nabi Muhammad bermaksud mengundang baik kalangan Yahudi maupun Nasrani
untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah
kelanjutan dari kitab-kitab sebelumnya dan memiliki misi yang sama. Namun
ketika orang-orang Kristen najran bertemu dengan orang-orang Yahudi terjadi
perdebatan di antara mereka. Masing-masing beranggapan bahwa Ibrahim adalah
penganut agama mereka. Maka turun ayat ini, yang menegaskan kembali bahwa Ibrahim
adalah sama-sama pendahulu mereka. Sebagaimana diketahui, Ibrahim adalah tokoh
yang dikagumi baik dikalangan umat Yahudi maupun Nasrani, maka tidak heran jika
mereka saling klaim. Ungkapan yang menegaskan bahwa Yesus adalah penerus
ajaran-ajaran yang dibawa oleh Musa dalam Taurat banyak terdapat dalam Al-Qur’an.
Upaya untuk
memberikan klarifikasi secara epistemologis eksistensi kitab suci dalam Islam
dan Katolik di atas, merupakan proses untuk menciptakan formulasi keselamatan
dalam kehidupan antara beda agama. Keselamatan dalam kehidupan yang harmonis di
antara para penganut agama yang berbeda, merupakan wujud untuk melestarikan
keselamatan dunia. Pertanyaannya kemudian, mengapa demikian, maka jawabannya
adalah sesungguhnya keselamatan seseorang di dunia menjadi indikator
keselamatan di akhirat. Dengan demikian, manusia harus semaksimal mungkin untuk
menjalin tali kasih terhadap sesama manusia baik sesama agama maupun dengan
beda agama. Kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
bukan saja disebabkan oleh perbedaan dan perdebatan bahkan menjadi kericuhan di
antara sesama umat internal agama tetapi terkadang terhadap eksternal agama.
2. Ketuhanan
Allah milik Katolik atau Islam
Kontroversial pemahaman
yang berkepanjangan antara muslim dan kristian mengenai Allah yang telah
terjadi selama berabad-abad ini adalah berinti masalah pada sosok Yesus
Kristus, yang di dalam Islam disebut sebagai Isa Almasih, dalam bahasa arab Isa
Almasih diartikan dengan Yesus Kristus.
Yesus Kristus bagi umat kristen telah dipercayai sebagai
Allah yang telah menjelma menjadi manusia. Pemahaman tersebut berasal dari
dogma kristen, yakni dogma trinitas, sebuah dogma yang telah diwariskan oleh
generasi-generasi krtisten secara turun-temurun sejak abad ke-4. Menurut dogma
ini, Allah itu satu dalam tiga pribadi, yakni Allah Bapa, Allah Anak (Yesus), dan Allah Roh Kudus.
Pemahaman bahwa ‘Yesus itu Allah’ menurut dogma
Trinitas, tampaknya memang sangat
berbeda dari ajaran Islam yang tertulis dengan sangat tegas dan jelas di dalam
Al-Qur’an :
”Sesungguhnya
Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah
Al-masih putera Maryam", padahal Al-masih (sendiri) berkata: "Hai
Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu"... (QS.Al-Maidah
(5):72).
Singkatnya, problema tentang Yesus kristus dapat dipahami
sebagai berikut; Menurut Trinitas: Yesus itu Allah, atau dalam bahasa Inggris
bahwa Yesus adalah Lord bukan God.
Dalam Kisah Para Rasul 2:36 Allah telah membuat Yesus.. menjadi Tuhan dan
Kristus, makna kata Tu(h)an Yesus, tidak beda dengan Tu(h)an Abraham. Sementara
itu, Allah (God ) pasti adalah Tuhan (Tuan), bahkan Tuhan di atas tuhan
(tuan)[23]
Oleh karena itu, memahami konsep ketuhanan Trinitas hanya dapat dipahami secara
filosofis dan tidak dapat dipahami secara tekstual oleh siapapun kecuali
kalangan Katolik sendiri.
Konsep trinitas di atas, dapat dipahami bahwa Yesus itu
Allah tapi bukan zat Allah, Ia hanyalah ke-Allah-an-Nya. Pemahaman Trinitas
secara lahiriah tidak sama dengan Al-Qur’an. Tapi secara substansi Yesus
dipahami orang nasrani tidak lebih dari tajalli Allah dalam dirinya,
sebagaimana halnya ketika Muhammad bertindak sebagai Nabi, bahwa ia berkata
tidak berdasar nafsunya melainkan Roh qudus Tuhan.
Argumentasi keselamatan yang bersifat tekstual dapat
ditemukan pada argumen Tuhan melalui wahyu. Salah satu bukti konkrit wahyu
mengenai keselamatan, dapat ditemukan melalui dokumen-dokumen gereja. Di antara
ke-16 dokumen yang dikeluarkan oleh Konsili Vatikan II (1962-1965), terdapat
dokumen khusus mengenai wahyu, “Konstitusi Dogmatik tentang wahyu Ilahi” yang
biasanya disebut dengan nama latinnya “Dei Verbum” disingkat DV.[24] Pokok
wahyu dan iman, bukanlah baru dibicarakan untuk pertama kalinya oleh Konsili
Vatikan II tetapi juga oleh Konsili-Konsili lainnya.[25] Wahyu
dan iman baik dalam Islam maupun dalam Katolik berfungsi sebagai pedoman hidup
dalam rangka meraih kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang secara
totalitas.
3. Inklusifisme
Pemahaman sebagai Pintu Keselamatan.
Secara
realitas, terjadinya berbagai kerusuhan di dunia ini, khususnya di Indonesia
yang selalu mengatasnamakan agama sebagai pemicu konflik. Dan yang menjadi
sorotan bahkan pelaku kerusuhan tersebut adalah sebagian besar berasal dari
penganut Islam dan Kristen. Peristiwa seperti ini bukanlah hal yang tabu dalam
pentas sejarah, tetapi telah berlarut-larut sejak pasca perang salib hingga
dewasa ini. Peristiwa seperti ini tidak akan memberikan jalan keselamatan horisontal
bahkan secara vertikal sekalipun. Oleh karena itu, khususnya antara penganut
kedua agama ini, sudah saatnya untuk merekontruksi paradigma pemahaman yang
esosteris dalam rangka membuka jalan keselamatan dalam bermasyarakat dan
berbangsa.
Untuk meningkatkan
hubungan tali kasih di antara agama (Katolik-Islam), sudah saatnya nilai-nilai
toleransi agama ditingkatkan. Beberapa kaedah atau landasan bersama ke depan
dalam rangka meningkatkan harmonisasi antara agama antara lain;
Pertama, Semua agama ingin menyejahterakan
pemeluknya, dan mendorong untuk menolong orang-orang miskin teraniayah. Kedua,
Agama-agama di Indonesia bersedia mengkontruksikan wawasan keagamaan yang
inklusif. Ketiga, Hubungan kekerabatan dalam masyarakat Indonesia dapat
meredam pertentangan antara agama yang berbeda.[26] Keempat, dalam masyarakat
secara tradisional terdapat kebiasaan-kebiasaan dan pranata sosial yang sudah
melembaga dan fungsional untuk memelihara ketertibaan, serta kerukunan
masyarakat sekalipun berbeda agama.[27] Kelima, berbagai upaya
pemerintah yang telah dilakukan untuk mendekatkan perbedaan di dalam masyarakat
didukung oleh semua pemuka agama.[28] Keenam, adanya dampak
positif bahkan negatif dari
globalisasi informasi dan ekonomi, yakni
wawasan keberagamaan masyarakat makin meningkat dan meluas. Ketujuh, berbagai kemudahan dan dispenasasi bagi
pemeluk agama untuk mengaktualisasikan ajaran agama dalam aktivitas keseharian
masing-masing kelompok agama.[29]
Ketujuh poin
ini bertujuan sebagai alat perekat hidup berbangsa dan bernegara dalam suatu
negeri yang plural, untuk meraih kehidupan yang damai dan sejahtera.
Inklusifisme
pemahaman antara sesama dan bersesama merupakan halte-halte untuk menuju
keselamatan. Keragaman hidup dalam beragama merupakan realitas sunatullah,
yang tidak dapat dinafikan. Keberagamaan yang berbeda merupakan keinginan Tuhan
agar saling mengenal diantara sesama dalam hidup bersesama. Keanekaragaman
agama dan budaya bukanlah merupakan realitas yang dipertentangkan dan
dipebenturkan satu sama lain, sebab secara substansial semua agama pada
dasarnya sama-sama mengajarkan kepada kebaikan. Agama adalah satu keinginan
akan cara hidup yang benar dan melakukan pemerataan cara hidup yang adil dan
beretika.
Pandangan
seperti ini terkait dengan pendapat pemikir keagamaan seperti W.E.Hocking
menulis Living religions and A world Faith dan The Coming World. Menurutnya
bahwa semua agama adalah sama. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana hubungan
antara berbagai agama yang ada dan pemenuhan berbagai kebutuhan akan adanya
satu agama di dunia ini.[30] Sumber
agama itu sendiri adalah cosmos dan dunia metafisis. Keinginan yang timbul dari
dunia metafisis itulah semua ajaran agama-agama.
Inklusifisme
dalam beragama tidak sekedar pada tataran teritis dan hanya disuarakan
padakalangan elitis agama, tapi sedapat dan sesegera mungkin untuk
direalisasikan sampai pada kalangan grass
root . Selama ini telah disaksikan
di pentas dunia bahwa ide bahkan telah disuarakan tentang hidup toleransi,
bersesama di dalam masyarakat multikulturalisme sudah membosankan dan
melemahkan syahwat hidup bertoleransi, sebab kalangan elitis agama dan para
ploitisi masih tetap melakukan provokasi-profokasi yang tujuannya demi
kepentingan sesaat.
Eksklusivisme[31] dalam
keberagamaan di era postmodern ini, secara psikologis dan sosiologis sungguh
tidak representatif lagi untuk dipertahankan oleh seseorang atau sekelompok
penganut suatu agama. Perspektif aksiologis, bahwa sikap eksklusivisme ini akan
menguburkan nilai-nilai inklusivisme itu sendiri–yang secara hakekat-sebagai
“fitrah” insaniyah dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks “berbagai jalan” menuju satu Tuhan, sungguh
sangat menarik untuk disimak perspektif pemikiran plural Frithjof Schuon dalam
bukunya Transcendent Unity of Religion sebagaimana sketsa yang
diekspresikan oleh Huston Smith (ahli agama-agama) di bawah ini.




GOD
esoteric[32]
exoteric[33]
Christianity Indigenous
Judaism Hinduism Budhism
Islam
Sketsa
di atas, secara filosofis adalah sangat tidak penting bagi perbedaan antara
agama, karena dari segi transenden terdapat kesatuan. Schuon mengatakan bahwa
pemahaman yang transenden merupakan the heart of religion, Oleh karena
itu, perbedaan yang penting bukanlah antara agama-agama tetapi antara
orang-orang dalam setiap agama. Seseorang yang dapat memahami apa yang ada di
atas garis (segi kesatuan trasenden agama-agama) dapat diidentifikasi sebagai
seorang esoteris, di mana kebenaran yang dirasakan para esoteris adalah
kebenaran yang transenden. Tingkatan pemahaman keagamaan seseorang pada tingkat
esoteris tersebut tidak semuanya dimiliki orang, tetapi hanya dimiliki oleh sebagian
saja. Semakin esoteris seseorang maka akan semakin arif dalam memandang
kebenaran yang dimiliki oleh semua orang.
Setelah
seseorang memahami agama pada garis esoteris dengan sendirinya dia telah
memiliki sikap inklusivisme. Sikap seperti ini pasti memberikan kontribusi yang
besar bagi ruang keterbukaan dan kebersesamaan dalam hidup beragama.
Sikap
inklusivisme yang berkualitas dapat memberikan ruang kebebasan kepada semua
penganut agama untuk berekspresi dalam menjalankan ajaran agamanya masing-masing.
Sumber epistemologi agama tersebut secara substansial berasal dari Tuhan
dan telah diterjemahkan oleh tokoh sucinya sesuai dengan kapasitas wahyu yang
diterimanya. Agama Yahudi diwahyukan kepada nabi Musa as, Hindu dibawa oleh
Budha Gauthama[34], Agama
Nasrani (Kristen) kepada Ìsa as. (Yesus)[35] dan
agama Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad. Semua nabi dan tokoh suci tersebut
diutus untuk menyampaikan kebenaran kepada seluruh manusia.
Dari perjumpaan agama-agama tersebut, maka semua nabi
yang membawa agama kepada umatnya adalah saudara. Setiap nabi memiliki
keistimewaan yang patut diteladani oleh setiap pengikutnya. Mereka memiliki
nilai-nilai kharismatik yang hampir setiap penganut agama lain merasakan
keistimewaan dari agama yang diajarkannya.
Mengakui kebenaran semua agama merupakan sikap pluralitas
abadi. Tentang yang mana terbenar dari semua agama bukan ditentukan oleh
manusia, tapi antara diri dengan Tuhan. Untuk itu sikap pluralisme yang
dipahami di sini yakni meyakini “kebenaran”[36] agama
lain selain agama sendiri, tapi untuk meyakini “Kebenaran” agama lain selain
agama sendiri tidak mungkin, karena setiap agama tidak mungkin meyakini
Kebenaran agama lain, sebab termasuk penyimpangan.[37]
Memahami eksistensi dan substansi suatu agama merupakan
upaya pendalaman ajaran agama masing-masing, biasanya dilakukan oleh para pakar
atau tokoh setiap agama. Relevansinya dengan hal tersebut, maka muncullah
perspektif keselamatan dalam konsepsi para teolog bahkan termasuk para pengabar
Alkitab, telah memperjuangkan teologi pembebasan namun mereka mendapat musibah
yang mengenaskan.
D. Kesimpulan
Keselamatan
secara etimologis, berasal kata shalom (Bahasa Ibrani), سلم (bahasa Arab). Kata ini berkembang
dan populer dengan istilah shalom. Dalam
Perjanjian Lama kata shalom digunakan untuk keadaan ‘sejahtera, bebas
dari bahaya, sehat tidak kurang dari apa-apa. Sedangkan dalam Al-Qur’an
sangat bervariatif, baik bentuk maupun maknanya. Keselamatan dalam bentuk السلامة (salam) artinya
selamat, keadaan tidak cacat, ketentraman, kedamaian, hormat, selamat,
ketundukan.
Titik temu doktrin keselamatan dalam Islam dan
Katolik secara epistemologis sebagai
berikut; (1), Tuhan memiliki otoritas menyelamatkan hamba-Nya baik melalui
perkataan maupun perbuatan-Nya. (2), Secara sosiologis untuk mencapai
keselamatan adalah berpikiran inklusif (3), Alkitab dan Alquran sama-sama wahyu
Tuhan yang diturunkan kepada Yesus dan Muhammad saw. (4). Eksistensi Yesus dan
Muhammad sama-sama sebagai nabi Allah, meskipun secara filosofis kedua nabi ini
adalah Ruh Allah.
Daftar Kepustakaan
Cantweel
Smith, Wilfred Wilfred Cantwell Smith, What Is
Scripture? A Comparative Approach
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kitab Suci
Agama-agama. Bandung:
Mizan, 2005.
Dirks, Jeral F. Abraham The Friend of God, USA, Berstville Maryland: Amana
Publications , 2002.
Cobb
Jr,.John B. Other Religions Speak of Different but Equally Valid Truths.
Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Obor , 1993.
Hammad, Manne. The Truth About Yesus, Jakarta: Pustaka Da’I, 1992.
Hamka Haq dkk, Damai Semua Ajaran Agama, Makassar:
Yayasan Ahkam & Forum Antar Umat Beragama, 2004.
I Sherwin, Bayron. et all, Faith Meets
faith series John Paul II And Interreligious Dialogue , Maryknoll, New York
1991.
Al-Kitab, Edisi milenium, tahun 2000.
Katekismus Gereja Katolik Arnold. Ende Floren, 1995.
Leirvik,
Yesus dalam Literatur Islam, terjemah Ahmad Norma Permata, Yogyakarta: Fajar Pustaka,2002.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Almunawwir Arab
–Indonesia Terlengkap , Cet.25; Surabaya: Pustaka Progresif, 2002.
Ngelow, Zakaria J. Kekristenan dan Nasionalisme : Perjumpaan Umat Kristen Protestan dengan Pergerakan
Nasionalisme Indonesia 1900-1950. Jakarta: Gunung Mulia, 1996.
Rahner, Karl.
Burns (edited), Encyclopedia of
Theology, The Concise Sacramentum Mundi, Oates London, 1981.
________,
Theological Investigations, 23 vols. (London, Baltimore
and New York,
1961
Scuon, Fritchof. Islam and Perennial Philosophy, World of Islam
Festifal Publishing,1976.
Shaleh,Hasyim. ‘Âlim Al-Lâhût Hans Küng: Yahdzar min
Intikhôb Bâbâ Raj’iy fi Al-Fâtikân, yang telah dialihbahasakan oleh Zaenal
Arifin, santri P3M Jakarta, 2004.
Shihab, Alwi. Islam Inklusif: Menuju sikap terbaik dalam
beragamaan. Bandung: Mizan, 1997.
Sugino, Buku Pembabtisan Dalam Roh, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1982
Sukidi, Teologi Inklusif, Jakarta: Kompas Media
Nusantara, 2001.
Sumartana,Theo. et. All , Pluralisme, Konflik dan
Pendidikan Agama di Indonesia Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2001.
Suseno, Franz Magnis. Paham Islam Inklusif Inti Pokok Pemikiran
Nurcholish Madjid (Cak Nur) Makalah disampaikan pada Seminar tiga Hari
dalam rangka dies natalis ke-7 universitas Paramadina. Sabtu, 19 Maret 2005.
Syukur Dister,Niko. Kristologi Sebuah Sketsa (Jakarta:
Kanisius, 1993
Umar, Nasaruddin. Membaca Ulang Kitab Suci; Upaya
Mengelimir Aspek Sentrifugal Agama dalam kumpulan makalah Hamka Haq
dkk, Damai Semua Ajaran Agama, Makassar: Yayasan Ahkam & Forum Antar
Umat Beragama, 2004.
Wilfried
Holfman, Murad. Religion on the Rise : Islam in the Third Millenium, cet.
I; Jakarta:
Serambi Ilmu Semesta, 2005.
Yazdi, Mehdi Hairi. The Principles Of Epistemology in Islamic
Philosophy: Knowledge by Presence,
New York:
New Yor Press, 1992.
Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Novo Millenio
Ineunte, 6 Januari 2001
Dr. ABDULLAH, S.Ag., M.Ag
Adalah dosen Aqidah Filsafat pada Fakultas
Ushuluddin&filsafat UIN Alauddin Makassar.
*Dosen (Lektor
Kepala/IV. a) dalam bidang pemikiran Islam pada fakults Ushuluddin &
filsafat UIN Alauddin Makassar e.mail. abdullahdul687@gmail.com.
[1] Nabi Isa as. berasal
dari keturunan Nabi Ishaq as.
dan Nabi Muhammad berasal dari keturunan Nabi Ismail. Dengan demikian Nabi Ishaq dan Ismail bersaudara
meskipun bersumber dari ibu yang berbeda tetapi satu bapak yakni Nabi Ibrahim as.
[2]Ilustrasi
tentang hal ini banyak dikemukakan oleh W.M.Watt dalam bukunya Islam and
Christianity Today A Contribution to Dialogue (Jakarta:Gaya Media Pratama,
1991), h.4.
[3] Allah
juruselamat kita yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan
memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia
yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia yaitu manusia Kristus Yesus (1
Tim.2: 4-5).
[4] Dalam keyakinan lama sebagian kaum Katolik, memegang diktum eklesiosentris
extra eclesiam nulla salus (di luar gereja tidak ada keselamatan).
Konsili Vatikan II meluruskan konsep eksklusif tersebut menjadi inklusif. Lihat
Edward Schillebeck, The Church : The Human Story of God New York.Crossroad, 1990. p.15.
Bandingkan Paul F.Knitter, One Earth,Many Religions: Multifaith Dialogue and
Global diterjemahkan dengan Judul Satu
Bumi Banyak Agama: Dialog Multi Agama dan Tanggung jawab Global (Jakarta: Gunung Mulia, 2003), h.165.
[5]Konferensi
Waligereja Indonesia, Iman Katolik: Buku informasi dan Referensi (Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 1996), h.186-187.
[6]Lihat, Nurcholish Madjid et.all.,
Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (cet.1; Jakarta: Paramadina, 1991), h.467.
[7] Kata salima mengandung arti selamat dari bahaya, damai
Lihat, Ahmad Warson Munawwir, Kamus Almunawwir Arab –Indonesia
Terlengkap (Cet.25; Surabaya:
Pustaka Progresif, 2002), 654.
[8] Ibid.
[9] Ibid., h. 655.
[11] Konsep dar salam sangat
berkaitan dengan ummah . Dar al- Islam digandengkan dengan dar
Al-Harb atau “wilayah perang” yang di dalamnya muslim tidak dapat hidup dan
melaksanakan agama mereka dengan mudah karena syariah bukan hukum yang
dipakai di daerah tersebut walaupun selalu ditempati minoritas muslim tinggal
di berbagai tempat di wilayah tersebut. Sedangkan istilah dar Al-Islam
dikenal dalam kalangan Kristen sebagai “Christendom. Lihat Sayyed Hosein Nasr The
Heart of Islam: Pesan-pesan Universal Islam untuk kemanusiaan (cet. 1; Bandung: Mizan , 2003),
h. 196.
[12]
A.Heuken SJ, Ensiklopedia Gereja, (Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka,
1992), h.330; bdk Ensiklopedia Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius,
1990), h. 494-495.
[13]
Istilah tersebut sinonim dengan ‘putra manusia’ (Dan 7, 13). Harapan ini
menyangkut juga suatu ‘Perjanjian Baru, yang akan ditulis di hati orang oleh
Allah sendiri (Yer 31, 31-34). Keadaan ini diproklamasikan Yesus dengan
mewartakan kedatangan –Kerajaan Allah (Mk 1, 15), Yesus mewartakan kehendak Allah untuk
menyelamatkan semua orang (Lk 3, 8;1 Tim
2,4), Lihat A.Heuken Op. cit. h. 331.
[14]
Perbedaan antara doktrin Islam dan Katolik mengenai otoritas Muhammad dan Isa
as.(Yesus) sebagai Nabi Allah. Muhammad saw memiliki otorittas untuk mewartakan
kehendak Allah untuk menyelamatkan orang yang dikehendaki-Nya tetapi tidak
absolut, karena beliau sebagai nabi, yang absolut hanyalah Allah. Sedangkan
dalam doktrin Katolik kewenangan Isa
(Yesus) tak terbatas karena ia merupakan
pewarta kehendak Allah untuk menyelamatkan semua orang.
[15]Tuhan
dalam kehendakNya berkuasa mutlak, Tuhan tidak mesti melaksanakan janji-janji,
baik ancaman –ancaman-Nya. Tuhan Pemilik Mutlak, berbuat sekehendak
Hati-Nya terhadap mahluk-Nya, Lihat
Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya II (Jakarta: UI
Press, 1985), h. 40.
[16] Dalam
QS.19 ayat 11 kata awha (kata
kerja) yang digunakan untuk Zakaria ketika mengalami bisu dan secara jelas
berarti ‘diperlihatkan’ atau dipertunjukkan suatu tanda.Lihat, W.Montgomery
Watt, Islam and Christianity Today: A contribution to dialogue diterjemahkan
dengan judul Islam dan Kristen Dewasa Ini: suatu sumbangan pemikiran untuk
dialog (Jakarta: Gaya Media Pratama,
1991), h.81.
[17] Kata kalimah di atas memberikan makna: membenarkan kedatangan
seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak
yaitu nabi Isa as.
[18]
(Hebrew 12: 5, 6).
[19]Sabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari'at nabi-nabi zaman dahulu
atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa. Orang-orang mukmin
begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah
termasuk iman kepada Muhammad saw., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan
amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.
[20]Yang dimaksud agama di sini ialah meng-Esakan Allah swt., beriman kepada-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala
perintah dan larangan-Nya.
[21] Kata Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah
swt.
[23] Seperti yang tertulis di kitab
Ulangan 10:17 ”God is Lord of lords /Allah adalah “Tuhan dari segala
tuhan”.
[24] Lihat
Dokumen Konsili Vatikan II, (Jakarta: Obor, 1993), h.317-337.
[25]Telah
dibicarakan pada Konsili Trente (1545-1563) dan Vatikan I (1869-1870). Pada
Konsili Vatikan II, baru dikembangkan pandangan menyeluruh tentang wahyu.
Terjadinya kemandegan pandangan tentang wahyu pada Konsili di Trente dan
Vatikan I, karena konsili di dua tempat ini terdapat pandangan yang keliru oleh
aliran sesat yang dihadapinya. Konsili Trente menghadapi gerakan reformasi yang
berpendapat bahwa wahyu yang sampai kepada kita sekarang hanya melalui kitab
suci saja (sola scriptura). Tetapi menurut Konsili, wahyu bukan hanya
melalui Alkitab, tetapi juga menurut tradisi lisan. Konsili Vatikan I
menghadapi gerakan modernisme yang berusaha mengintegrasikan hasil ilmu
pengetahuan modern ke dalam iman, tetapi dalam praktek sering cenderung
mengorbankan iman demi ilmu pengetahuan.
[26]Usaha
untuk meredam ketegangan antara umat beragama, membangun kerja sama secara
kultural dalam bentuk membangun simbol kebersamaan seperti rumah betang di
Kalimantan Tengah, pela gadong di Ambon, Keluarga atau marga di Sumatera Utara.
[27]Konsep-konsep
yang sudah melembaga dan berfungsional antara lain; Konsep hidup mapalus di
Minahasa, Rumah Betang di kalangan suku Dayak Kalimantan, Subak di Bali dan
bahkan beraneka ragam ritual-ritual selamatan lingkungan hidup.
[28]Kegiatan-kegiatan
musyawarah dan dialog antar agama dapat berjalan baik, terutama di tingkat
pusat dan propinsi. Di Propinsi Sulawesi Selatan telah dibangun sebuah lembaga
Forum Antara Umat Beragama, Kerukunan kesatuan bangsa yang sangat berperan dan
bersifat fungsional dalam mengatasi berbagai persoalan bersama yang bersifat
spontanitas (memberikan bantuan kepada para penderita kebakaran, bencana alam
dll). Selain itu, FORLOG (Forun antar kita). Forum ini menangani masalah-masalah
masyarakat pengungsi, penderita penyakit kusta dan berbagai kegiatan yang
mengarah kepada hidup bersesama.
[29]
Lihat, Said Aqil Husin Almunawar, Fikih Hubungan Antar Agama (cet. iii;
Jakarta: Ciputat Press, 2005), h.xiii-xiv.
[30] Agama yang dianut oleh semua manusia dipermukaan bumi ini sama-sama
meyakini epistimologi dan ontologi serta teleleologi kehidupan. Dan sumber
epistimologinya adalah sama-sama meyakini kepada satu Tuhan, Percaya akan
adanya para utusan Tuhan dari setiap agama. Lihat, Joachin Wach, The comparative
Study of Religions Colombia University Press, 1958, h. 68.
[31]
Menurut Fatimah Husein, dosen Universitas Islam Negeri Yogyakarta, meraih
doktornya di Melbourne University, Australia. Dalam disertasinya “Muslim-Christian
Relations in The New Order Indonesia: The Exclusivist and Inclusivist Muslims’
Perspectives” 2004, menyebutkan ciri-ciri pemikiran eksklusif (1) mereka menerapkan model penafsiran
literal terhadap Al-Qur'±n dan Sunnah dan berorientasi masa lalu. Karena
menggunakan pendekatan literal, maka ijtihad bukanlah hal yang sentral dalam
kerangka berpikir mereka; (2) mereka berpendapat bahwa keselamatan hanya bisa
dicapai melalui agama Islam. Bagi mereka, Islam adalah agama final yang datang
untuk mengoreksi agama-agama lain. Karena itu mereka menggugat otentisitas
Kitab suci agama lain.
[32] Esoteric artinya di dalam,
maksudnya pandangan penganut agama pada tingkatan ini hanya terdapat pada
kelompok-kelompok terbatas atau kelompok-kelompok tertentu yang biasanya dari
kalangan teolog, filosof, sufi (mistikus) dari masing-masing agama.
[33] Exoteris artinya di luar, maksudnya
bahwa tingkatan pemahaman agama pada tingkat ini hanya memandang agama dari
sisi luar atau simbol-simbol yang mengangap bahwa kebenaran itu terletak pada
kulit agama dan tidak memperhatikan pada sisi esensialnya. Tingkatan ini
biasanya ditemukan pada kelompok umum.
[34] Dalam tulisannya, Sayyed Hosein
Nasr mengatakan bahwa al-din al-hanif dalam Islam mirip dengan Sanata
dharma dalam agama Hindu. Oleh karena itu, ada sebagian komentator muslim
India menyatakan bahwa nabi Dzulkiflki dalam Al-Qur’an adalah Budha dari Kifl (Kapilawastu) dan
“pohon arasy” yang disebut dalam Al-Qur’an
Surat 95 adalah pohon bodhi yang dibawahnya Budha memperoleh illuminasi.
Lihat sayyed Hosein Nasr, Tasawuf, Dulu dan Sekarang Terjemahan Abdul
hadi W.M. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), h. 154-155.
[35]
Silsilah Yesus Kristus, ia anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan
Ishak, Ishak memperanakkan Yakub. Yakub memperanakkan Yehuda dan
saudara-saudaranya dan seterusnya. Ada turunan Boas, raja Daud, Solomo sampai
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, Maria melahirkan Yesus yang disebut
Kristus…. (Matius 1:1-17).
[36] Perlu
diketahui bahwa kebenaran yang diawali dengan huruf kecil adalah kebenaran
horisontal, sedangkan Kebenaran “K” kapital menunjukkan Kebenaran Abadi.
[37] Orang
Muslim dari satu sisi tidak mungkin menjadi Kristen pada saat yang bersamaan
ketika ia menjadi muslim, begitu pula Katolik tidak mungkin mau menjadi muslim
pada saat yang sama ketika ia menjadi Katolik yang baik. Termasuk semua
agama yang ada di permukaan bumi ini tidak mungkin mau meyakini dirinya sebagai
penganut agama yang sama dalam waktu yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar